Aksara Sang Renjana (cerpen)

 

Aksara Sang Renjana

Annisa Septia Hermita


Ini.”

Bentala menyodorkan buku harian pada gadis manis yang sedang menyirami tanaman. Buku hariannya tertinggal ketika ia sedang menemani Bentala lembur bekerja. Gadis yang memiliki senyum indah itu senantiasa mengambil barangnya, kemudian memutuskan untuk menyudahi kegiatannya itu.

“Makasih kak”, ucapnya sambil menuju pekarangan rumah untuk mengambil sapu.

“Mau nyapu? Nanti dulu deh, ada yang mau kakak bicarain nihh.”

“Ada apansi kak?”

“Adalah, udah masuk dulu yuk! Nanti sekalian mama mau bicara juga.”

“Loh? Mama belum berangkat kak?” berbalik badan menatap kakak nya.

“Belum, udah yuk.” Kemudian mendahuluinya berjalan

Sejenak gadis itu berpikir, hal apa yang ingin diucapkan oleh kakak dan mamanya itu? Seperti hal yang serius. Namun dia tetap mengkuti langkah kakak nya menuju ruang keluarga dan mama mereka sudah berada disana. Setelah itu mereka duduk berhadapan, dengan bentala yang berada di sofa depan mamanya. Suasana ruangan berubah, mungkin jika bisa dijelaskan atmosfer nya lebih terasa mencekam dan dingin.

Dengan tenang Bentala memulai pecakapan “ Ehm… jadi begini, kakak mau terbang besok”

Gadis itu hanya mengangguk mendengar ucapan kakanya. Ada yang aneh, seperti ada yang berbeda. Biasanya ketika kak Bentala ingin pergi terbang mereka tidak perlu merepotkan diri untuk berkumpul bersama. Bahkan saat mamanya berada di rumah sudah menjadi suatu hal yang langka baginya, seharusnya jam segini beliau sudah berangkat bekerja.

Suasana ruangan hening, lalu diisi dengan ucapan mamanya yang cukup membuat ia terkejut.

“ Nak, mama mau nikah lagi. Minggu depan acara pernikahannya.”

Kalimat yang dilontarkan kakak dan mamanya saat itu ternyata merupakan tanda perpisahan bagi mereka. Percakapan itu merupakan awal mula perjalanan kisah seorang gadis tangguh yang penuh lika-liku. Namanya Renjana, kesendirian sudah lekat dengan dirinya. Jana itu suka menulis, maka dari itu setiap masalah ia tuangkan di buku harian kesayangannya. Karena pada saat ia tidak bisa bercerita dengan siapapun, baginya menulis menjadi lahan ketenangan dan penyelesaian dari segala masalahnya.

 

Seminggu yang lalu sejak pembicaraan mereka, Renjana memutuskan untuk tidak mengunjungi pernikahan mamanya. Perkataan mamanya tentang menikah lagi merupakan keputusan yang tidak bisa ia bantah namun, cukup mengganggu kehidupannya. Saat ini, dipikirannya hanya tentang kakaknya yang tidak kunjung ditemukan sejak terjadi turbulensi pada pesawat yang dikendarainya. Ia bahkah tidak tahu apakah kakaknya akan selamat atau tidak. Rasa sesak itu kembali membuncah hatinya, ia menangis sejadi-jadinya. Menangisi hidupnya yang menyedihkan karena kehilangan sosok tersayang nya, lagi.

Bagaimana bisa ia kehilangan orang tersayangnya, bahkan ia tak mengerti seperti apa hangatnya sosok ayah.

“Ayah, Jana kangen ayah” Isakan tangis itu terdengar, keluar dari bibirnya.

Sedari kecil, Renjana telah kehilangan perhatian seorang ayah. Semenjak orang tuanya berpisah ia harus tinggal dengan mama dan kakaknya. Ayahnya menghilang tanpa kabar setelah pengadilan memutuskan perpisahan mereka. Renjana menuju nakas untuk mengambil buku hariannya yang menjadi tempat keluh kesahnya. Jana mulai mencoretkan rangkaian kalimat di buku hariannya itu

29 Feb 2021

Hari ini cukup melelahkan, rasanya campur aduk. Bingung harus gimana. Mama sekarang punya keluarga baru, dan berarti aku udah gabisa merasakan utuh kasih sayang seorang  ibu. Aku kecewa atas sikap mama yang seakan ga peduli gimana kabar kak Bentala. It hurt’s me, aku berusaha keras cari kak bentala tapi mama? Dia sibuk ngurusin pernikahannya. Mama juga ga ngizinin aku buat tinggal bersama mereka, kata mama, “Jana gausah, kamu malah ngrepotin om Satya.” Jana gabisa ikut campur urusan mereka. Mama sudah Bahagia sekarang.

Jana jadi kangen sama ayah. Jana ga pernah liat ayah lagi, bisa aja Jana lupa gimana wajah ayah sekarang. Udah berubah atau masih tampan sama seperti dulu, hehehe. Ayah, anak gadis mu udah besar loh sekarang! Udah kuliah! ayah emang gamau dengerin cerita jana? Jana mau cerita semuanya ke ayah. Jana udah ga punya sosok kuat buat bersandar yah selain kak bentala, sekarang kak bentala juga tega ninggalin jana sendirian. Ayah, bisa ga pulang yah? Temenin Jana disini, masa cuma sama bi Nah ehehehe…Udah dulu deh sedihnya, Jana mau tidur. Ternyata hidup sangat melelahkan yaa. Kalau gitu SEE U.

Ia menutup buku hariannya. Ada rasa lega sepelas mengeluh dengan buku kesayangannya itu. Tidak sadar ia pun tertidur lelap. Hingga pintu kamarnya diketuk oleh bi Nah, bibi yang mengasuhnya sejak kecil. Bi Nah tau segalanya, bi Nah saksi hidupnya. Jana yang selalu kesepian, menangis tanpa suara, hingga berniat menghilangkan nyawa. Beruntung gagal karena bi Nah berhasil membujuk nona nya itu.

“Mba jana, bangun mba. Makan dulu, mba Jana belum makan loh.”

Jana merenggangkan badanya, lalu bangun dan berjalan membuka pintu, “ hngg, iya bi.” ucapnya dengan mata sayup setengah sadar. Ia langsung turun kebawah menuju meja makan memohon pada bi Nah untuk menemaninya makan, “ bi, makan bareng Jana ya?” pinta Jana

“ Iya mba nanti bibi temani ya, bibi mau menyiapkan makanan dulu”

Bagi Jana bi Nah sudah seperti ibunya, ketika mama tidak pernah mengurusnya dengan baik, tidak pernah mendengar keluh kesahnya, tidak perhatian, tapi bi Nah? beliau menggantikan sosok mama sebagai pendamping Jana yang setia selain kakaknya Bentala. Bi Nah selalu menasihati Jana selayaknya menasihati anaknya sendiri. Kata bi Nah, mba Jana sudah seperti anak kandung. Jana sangat sayang bi Nah seperti ia sayang mama, jika mamanya sibuk bekerja dan kakaknya pergi terbang bi Nah adalah orang pertama yang selalu dan pasti menemani Jana. Sedari kecil bi Nah sudah melihat tumbuh kembang dia dan kakaknya.

Bi Nah menuju meja makan, meletakkan makanan yang sudah dibuatnya di atas meja, “Ini mba, tempe orek sambal terasi kesukaan mba Jana.”

Ah, bahkan bi Nah lebih mengetahui kesukaan dan apa yang tidak disukainya dibanding mama nya sendiri. Ia jadi ingat, pernah satu waktu mama membawakan oleh-oleh ikan air tawar yang ternyata Jana alergi pada hal itu.

Jana menatap lekat bi Nah, “bi, makasih ya sudah mau menjaga Jana. Kalau tidak ada bibi, sekarang pasti Jana sudah sendirian disini.”

“Iya mba, kan bibi sudah pernah bilang kalau mba Jana itu seperti anak bibi. Bibi dengan senang hati merawat mba Jana sama mas Bentala apapun kondisi dan keadaannya. Bi Nah juga sudah janji sama mas Bentala buat jaga mba Jana” Ucap bi Nah dengan mata berkaca-kaca.

Jana tersenyum mendengar ucapan bibinya itu, “yaudah bi, kita makan yuk nanti keburu dingin. Wahhh, pasti enak masakannya bibi” ucapnya tertawa riang.

Di sela-sela makan mereka, Jana tiba-tiba berucap, “bi, Jana kangen sama ayah. Kira-kira ayah dimana ya bi? Bisa ketemu Jana sekarang ga ya? Bibi ada no nya ayah?”

Bi Nah terkejut dengan ucapan nona nya itu, bi Nah ingin memberitahu segala rahasia yang selama ini ia simpan, namun segan dengan nyonya nya karena pasti nyonya belum membahas hal ini pada mba Jana. Namun, setelah dipikir-pikir ia harus membicarakan hal ini dengan nona nya itu, sudah waktunya. Jana sudah cukup umur dan mengerti dengan segala situasi dan kondisi yang terjadi, bi Nah juga yakin nona nya itu gadis kuat dan Tangguh.

“ Habiskan dulu ya mba, setelah makan dan bersih-bersih ada hal yang ingin bi Nah sampaikan sama mba Jana.”

Setelah semuanya bersih dan rapi, bi Nah mengajak nona nya itu. Ada hal yang ingin disampaikannya. Jana juga sengaja menunggu di ruang makan karena ia sangat penasaran dengan apa yang akan disampaikan bibi nya ini.

Bi Nah menghela nafas, dan berucap dengan tenang, “mba Jana, ayah itu sudah tidak ada.”

Jana masih mencerna ucapan bi Nah tentang ayahnya, jadi? Selama ini? Ayah nya itu sudah berpulang? dan ia bahkan tidak tahu akan hal ini sama sekali. Apakah kak Bentala tau akan hal ini?

“ Mas Bentala sudah tahu mba, nyonya dan mas Bentala selalu bilang ke bibi untuk jangan cerita sama mba Jana. Ayah mba Jana sudah berpulang sejak mba Jana berumur 15 tahun. Mas Bentala juga pesan sebelum dia pergi kemarin kalau mba Jana membicarakan ayah lagi bibi disuruh untuk memberitahu segalanya ke mba Jana.”

“ Mba Jana itu anak kuat to, masih ada bibi yang selalu nemani mba Jana.”

Jana tersenyum mendengar ucapan bi Nah, “iya bi, Jana gapapa kok. Makasih karena bibi sudah kasih tau Jana segalanya, Jana ke kamar dulu ya bi.”

“Iya mba, baik-baik ya.” Ucap bi Nah tersenyum tulus.

Jana memasuki kamarnya, air matanya perlahan runtuh. Baik, Jana harus mulai terbiasa dengan kabar mendadak seperti ini. Jika ia menangis, saat nya untuk kembali menulis di buku kesayangannya itu. Namun ternyata halamannya sudah penuh, tidak ada sisa lagi di buku itu. Tiba-tiba, Jana mulai berkhayal bahwa buku kesayangan ini suatu saat nanti bisa menjadi buku yang banyak diminati banyak orang. Ia ingin orang lain melihat kisahnya, ia ingin menceritakan apa yang dirasakannya karena bisa saja ada orang yang memiliki kisah sama dengan dirinya. Semoga saja buku yang penuh aksara ini suatu saat bisa menjadi penguat bagi para pembacanya.

Jana terkekeh geli dengan apa yang dibayangkannya, “ck, ada-ada aja. Udahlah.”

Kisah Jana memang tidak berakhir bahagia, bahkan di akhir kisah ia masih harus menelan pil pahit. Bagi Jana, semua yang ia miliki pasti akan kembali kepada pemilik asalNya, Jana hanya meyakini bahwa suatu saat semesta pasti akan berpihak padanya. Tidak sekarang tidak apa, pasti nanti! Tapi bukankah kehidupan akan selalu seperti ini? Kita hanya perlu siap akan banyak kejutan lainnya.




-ini cerpen sejak 2020 lalu, sebenarnya aku pakai untuk tugas. tapi aku merasa sepertinya jika untuk diterbitkan masih kurang, maka dari itu baru berani post disini. semoga kalian suka ya, masukan dan sarannya pasti kuterima. love you all. Thanksđź’—


                                                                                                                                                                    love, Ann

 

Komentar

Postingan Populer